Adhie Massardi Yakin Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen, Ini Alasannya

Adhie Massardi Yakin Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen, Ini Alasannya

13 views
0

Pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengalahkan pasangan 01, Jokowi dan Ma’ruf Amin dengan memperoleh 55 persen suara. Demikian disampaikan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi.

Adhie meyakini hal tersebut dengan melihat Pilpres 2014 lalu, di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Sementara di Pilpres 2019 ini, Adhie juga yakin suara Prabowo bertambah karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno.

“Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” kata Adhie saat diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5).

Menurut Adhie, pada 2014 lalu Joko Widodo bisa menang lantaran mendapatkan suara dukungan dari Jusuf Kalla.

“Pada 2014 itu Jokowi dibantu oleh kekuatan dukungan Jusuf Kalla yang menjadi motor pendulang suara yang banyak dari pasangan Jokowi-JK waktu itu. Jadi di luar PDIP dan faktor Jokowi sendiri, itu yang mendulang suara adalah Jusuf Kalla,” ujarnya.

Adhie Massardi Yakin Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen, Ini Alasannya (porosnasional.com)

Adhie Massardi Yakin Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen, Ini Alasannya

Selain itu, pada 2014 lalu Jokowi juga mendapatkan dukungan dari pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sehingga suara Jokowi menjadi banyak karena dampak dari pendukung Jusuf Kalla dan Ahok.

“Pada 2019 Yusuf Kalla off dari kontestasi. Kemudian adalagi yang mendorong pasangan Jokowi-JK 2014 ini adalah Ahok dengan faktor non-muslim dan etnis China yang didorong kesitu,” ungkapnya.

Tetapi pada Pilpres 2019 ini, Jusuf Kalla tidak ikut dalam kontestasi sehingga dinilai mengurangi jumlah dukungannya untuk mendukung Jokowi. Tidak hanya itu, setelah Ma’ruf Amin dipilih menjadi pendamping Jokowi juga berpengaruh dari dukungan para pendukung Ahok yang diduga kecewa karena sosok Ma’ruf Amin yang membuat Ahok tidak dipilih mendampingi Jokowi.

“Tetapi 2019 ini kan ada kekecewaan yang luar biasa besar juga dari pendukung Ahok dan non-muslim dan etnis Tionghoa terutama karena pasangan Joko Widodo ternyata Ma’ruf Amin yang dalam pandangan mereka merupakan otak dari yang menyingkirkan Ahok, jadi kemungkinan berkurang,” jelasnya.

Jadi menurut Adhie, pasangan Jokowi-Ma’ruf pada kontestasi Pilpres 2019 ini harusnya hanya mendapatkan suara sebesar 40-42 persen.

“Jadi kalau dihitung realistis politiknya dengan angka kemudian yang muncul didalam pemilu itu dugaan saya hitungan saya maksimal pasangan Jokowi-Ma’ruf ini 40 sampai 42 persen,” tandasnya.

Sehingga, jika dilihat dari perhitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sementara di Situng milik KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf, maka diyakini adanya masalah di KPU.

“Karena yang diyakini dalam ilmu politik itu adalah pemilu itu ekspresi politik keinginan masyarakatnya, angka politik juga keinginan masyarakat. Kalau angka politik ini tidak nyambung dengan realitas politiknya itu pasti ada masalah,” pungkas Adhie.

Adapun, alasan yang disampaikan Adhie sangat masuk akal. Dengan melihat perolehan pada Pilpres 2014 lalu, di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa mengantongi suara sebesar 46,85 persen saat itu.

About author

Your email address will not be published. Required fields are marked *