Prabowo Tolak 7 Koper Utusan 9 Naga 

Prabowo Tolak 7 Koper Utusan 9 Naga 

2223 views
7

Tersiar kabar mengejutkan, ditengah carut marut penghitungan suara Pilpres 2019. Adalah orang – orang dilingkaran Capres 01, Petahana berusaha keras menemui calon Presiden Prabowo Subianto.

Bahkan, dikabarkan ada yang sampai bawa 7 koper yang diduga berisikan uang. Hal tersebut terungkap dalam konferensi yang digelar Sekretaris Nasional Prabowo-Sandi (Seknas PADI) dan MPPAB (Masyarakat Peduli Pemilu Adil dan Berintegritas) di Jakarta, Senin (22/4/2019).

“Saya berada di Ring 1 Prabowo-Sandi. Jadi, saya tahu persis apa yang saat ini terjadi, dan saya pastikan Prabowo tidak akan mengecewakan pendukungnya, karena kami, para ulama dan Habaib yang berada di Ring 1-nya, selalu memberi masukan kepada Beliau,” tutur Dewan Pembina Pimpinan Pusat Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhsin Ahmad Alattas.

Ia mengatakan, bahwa bukan hanya Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan saja yang ingin bertemu Prabowo, tetapi juga dua orang Taipan yang merupakan bagian dari 9 Naga, yaitu Bos Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma alias Aguan, dan Bos Lippo Group, James Riyadi.

Dewan Pembina Pimpinan Pusat FPI, Habib Muhsin Ahmad Alattas (porosnasional.com)

Dewan Pembina Pimpinan Pusat FPI, Habib Muhsin Ahmad Alattas

Adapun, 9 Naga adalah sembilan konglomerat keturunan Tionghoa yang kabarnya sejak Pilkada DKI Jakarta 2012 menjadi pendukung Jokowi.

“Aguan minta bertemu Prabowo di Singapura, ditolak oleh Prabowo. James Riyadi juga minta bertemu, ditolak,” ujarnya.

Selain itu, Habib Muhsin juga memberitahu jika ada seorang pria muda Tionghoa yang ingin menemui Prabowo dengan membawa tujuh kopor yang diduga berisi uang, tetapi juga ditolak Prabowo.

‘Jadi, tak usah khawatir; Prabowo tidak akan mengecewakan pendukungnya dengan menemui utusan Jokowi, karena Prabowo tidak akan melakukan itu,” tandasnya.

Diingatkan Habib, bahwa saat ini pendukung 02 sebenarnya tengah berhadapan dengan kaum yang tidak percaya Tuhan dan tidak mengenal dosa, serta pro PKI.

“Itu sebabnya mereka menghalalkan berbagai cara untuk memenangkan Pilpres,” lanjutnya.

Habib juga menegaskan, jika segala antisipasi dan perlawanan yang dilakukan untuk mengatasi kecurangan gagal, maka ia mengimbau rakyat agar mengepung KPUD di seluruh Tanah Air, dan setelah itu mengepung KPU Pusat. Sebab KPUD maupun KPU Pusat diduga kuat terlibat dalam pencurangan Pilpres 2019.

“Bahkan jika perlu kita turunkan 10 juta massa untuk melakukan people power,” tegasnya.

Diketahui, kubu 02 menduga telah terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif pada penyelenggaraan Pilpres 2019. Hal ini dikarenakan, para relawan tidak hanya menemukan surat suara yang dicoblos untuk Jokowi, sebelum dan saat pemungutan suara pada 17 April lalu, termasuk juga temuan di Selangor, Malaysia.

Bos Lippo Group, James Riyadi (porosnasional.com)

Bos Lippo Group, James Riyadi

Tetapi juga menemukan adanya KPPS yang mencoblosi surat suara untuk Jokowi, adanya TPS yang dipasok surat suara dalam jumlah yang kurang mencukupi sehingga banyak warga tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Kemudian, adanya kotak suara yang dibawa ke Ruko dan hotel, bukan ke kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya. Semua ini mereka rekam dan diposting di media sosial.

Tidak hanya itu, mereka juga berang kepada lembaga survei karena melakukan quick count (QC) yang memenangkang Jokowi, sebab menurut mereka, berdasarkan formulir C1 yang mereka kumpulkan dari semua TPS di wilayah Indonesia, menunjukkan jika pemenang Pilpres 2019 adalah Prabowo-Sandi, bukan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Bahkan, kemarahan mereka semakin menjadi lantaran KPU juga diduga melakukan kecurangan karena data perolehan suara yang diinput ke sistem hitung (Situng) di websitenya, berbeda dengan data di Formulir C1. Di website KPU, perolehan suara Jokowi ditambah, sementara perolehan suara Prabowo dikurangi. Input data ini pun tidak disertai formulir C1 sebagai validasi.

Meski dikritik, anehnya KPU tetap saja menginput data yang tidak akurat, bahkan kemudian dituding meng-upload formulir C1 yang tidak ditandatangani saksi alias C1 palsu, untuk mendukung data perolehan suara yang diinputnya.

Sementara di tengah kekacauan ini, Prabowo menggelar konferensi pers dan menyatakan menang berdasarkan real count internalnya, karena mendapat 62% suara. Kemudian, PDIP sebagai partai pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin tidak mau kalah. Partai ini juga menggelar konferensi pers dan mengklaim menang 63%.

Lebih lanjut, tersiar kabar jika Jokowi mengutus Luhut Panjaitan untuk menemui Prabowo dengan tujuan untuk bernegosiasi. Namun, Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar memastikan jika Prabowo menolak bertemu Luhut.

“Sampai dengan malam ini, Pak @prabowo belum dan tidak memutuskan menerima utusan Pak Jokowi yakni Pak Luhut untuk bertemu beliau di Kertanegara. Pak Prabowo masih fokus memperjuangkan dan mengawal agar rakyat terus mengawal C1,” tulis Dahnil melalui akun Twitter-nya, @Dahnilanzar, Sabtu (20/4/2019).

Luhut Binsar Panjaitan (porosnasional.com)

Luhut Binsar Panjaitan

Adapun, saat konferensi pers di Seknas PADI, para relawan yang hadir dengan tegas mengatakan jika mereka tidak setuju Prabowo bertemu siapa pun yang diutus Jokowi.

“Kalau Pak Prabowo mau menemui mereka, kami tak setuju. Bahkan sangat kecewa. Kami tak ingin ada kesepakatan apa pun antara Jokowi dengan Prabowo, karena kami menginginkan perubahan di negara ini. Itu sebabnya kami mendukung Pak Prabowo,” tegas relawan.

Jadi, dari semuanya dapat dikatakan kubu Petahana sedang panik. Karenanya, mereka melakukan berbagai cara untuk dapat mewujudkan ambisinya. Namun demikian, masyarakat sudah semakin cerdas untuk dapat membaca dan menilai situasi yang terjadi saat ini.

About author

Your email address will not be published. Required fields are marked *