Hoaks, BPN Prabowo Bantah Gunakan Konsultan Asing Di Pilpres 2019

Hoaks, BPN Prabowo Bantah Gunakan Konsultan Asing Di Pilpres 2019

10 views
0

Calon presiden Petahana menyebutkan, pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menggunakan konsultan asing dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2019. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membantah pernyataan calon presiden nomor urut 01 itu yang menyebut pasangan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno menggunakan konsultan asing dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Bahkan, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut pernyataan petahana itu sebagai kabar bohong atau hoaks.

“Bohong dan hoaks kalau menyebut Pak Prabowo dan Bang Sandi pakai konsultan asing,” kata Dahnil Anzar Simanjuntak saat ditemui di media center pasangan Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Senin (4/2/2019).

Dahnil juga menanggapi pernyataan petahana terkait propaganda Rusia dengan memproduksi hoaks sebanyak-banyaknya.

Hoaks, BPN Prabowo Bantah Gunakan Konsultan Asing Di Pilpres 2019

Hoaks, BPN Prabowo Bantah Gunakan Konsultan Asing Di Pilpres 2019

Ditegaskan Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini, gaya kampanye pasangan Prabowo-Sandiaga selama ini tidak menggunakan propaganda ala Rusia. “Kami tidak punya konsultan asing dan kampanye kami bukan ala Rusia,” tegas Dahnil.

Dahnil juga meminta Presiden berhati-hati dalam memberikan pernyataan. Karena, jika tidak terbukti, dia bisa dituduh menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait penggunaan konsultasi asing dan propaganda Rusia.

“Jadi saya pikir hal yang disampaikan, tidak tahu Pak Jokowi ini sumbernya dari mana, itu adalah sumber hoaks. Dan hati-hati Pak Jokowi bisa menebar hoaks nanti,” tutur Dahnil.

Sebelumnya, petahana menyebutkan, pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggunakan konsultan asing dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2019. Akibat menggunakan konsultan asing itu, menurutnya, strategi kampanye yang digunakan kubu oposisi berpotensi memecah belah masyarakat.

About author