Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

29 views
0

Tidak hanya ingin membebaskan terpidana teroris Abu Bakar Ba’asyir yang ternyata batal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga kembali mengeluarkan haknya untuk mengurangi hukuman narapidana alias grasi. Adapun grasi diberikan kepada terpidana kasus pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, I Nyoman Susrama.

Susrama merupakan otak di balik pembunuhan Anak Agung Gede Narendra Prabangsa, wartawan Jawa Pos Radar Bali. Grasi yang diberikan berupa keringanan hukum dari penjara seumur hidup menjadi pidana sementara.

“Ya, benar (ada grasi terhadap Susrama),” ujar Kepala Rumah Tahanan Bangli, Made Suwendra, saat dihubungi, Senin (21/1). “Itu kan hukumannya menjadi 20 tahun (penjara).”

Merujuk Keputusan Presiden (Keppres), grasi tersebut memang tertuang dalam Keppres Nomor 29 Tahun 2018 tentang pemberian remisi berupa perubahan dari pidana seumur hidup menjadi pidana penjara sementara. Keppres ditandatangani langsung oleh Jokowi pada Jumat, 7 Desember 2018.

Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

Sementara itu,  I Made Suardana, praktisi hukum yang ikut mengawal kasus ini terkejut mendengar keputusan Jokowi meneken surat tersebut. 

Menurutnya, hukuman untuk Susrama menggunakan Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal itu mengatur tentang pidana untuk pelaku pembunuhan berencana yang diancam hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup, atau selama waktu tertentu, maksimal 20 tahun.

“Pembunuhan terhadap Prabangsa haruslah dimaknai sebagai kejahatan terhadap kemerdekaan pers,” kata Suardana dalam keterangan persnya (21/1).

Pria yang akrab disapa Ariel ini pun menegaskan, pengungkapan kasus pembunuhan ini sangat rumit. Pihak kepolisian harus ekstra keras mengusut kasus yang menjadi perhatian nasional ini.

Selain itu, putusan penjara seumur hidup terhadap Susrama juga dibarengi putusan pidana yang cukup berkeadilan. “Seharusnya pemerintah memaknai itu sebagi penghormatan terhadap pilar demokrasi yang juga merupakan agen perubahan yaitu pers itu sendiri,” jelasnya.

Prinsip Keadilan

Lebih lanjut pihaknya menyatakan, grasi yang diberikan mengurangi prinsip keadilan. Terlebih grasi ini terkesan diobral.

“Bayangan kita saat itu adalah hukuman yang dapat disamakan atas kebebasan dia yang dibatasi juga seumur hidup. Obral grasi seperti ini menurut saya mengurangi prinsip keadilan itu sendiri,” ungkap Ariel.

Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

Setelah Remisi Mantan Bos Century, Kini Jokowi Beri Grasi Kepada Otak Pembunuhan Wartawan Radar Bali

Ariel juga mengkritisi tim ahli hukum presiden melakukan koreksi sebelum pemberian grasi. Pasalnya, berdasar Undang-Undang Nomor 22 tahun 2002 dan perubahannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2010 memberikan kewenangan bagi presiden.

Tetapi, Ariel mengatakan, seharusnya sejak berada di Kementerian Hukum dan HAM, semestinya sudah diberikan catatan terhadap kasus tertentu yang mendapat sorotan publik.

“Demi aspek keadilan dan asas kemanfaatan, maka grasi tersebut masih memungkinkan untuk dicabut dan dianulir lagi selama ada kemauan pemerintah selaku pihak yang mengeluarkan diskresi,” jelasnya.

Untuk diketahui, Susrama dijatuhi pidana penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada 15 Februari 2010. Sebelumnya, jaksa penuntut umum menuntut Susrama dengan hukuman mati. Dan saat itu pula, Susrama menyatakan banding.

Majelis hakim pimpinan Djumain dalam amar putusannya, menyatakan Susrama telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Prabangsa. Susrama dijerat Pasal 340 KUHP.

Kasus pembunuhan Prabangsa ini kemudian berhasil diungkap polisi meskipun para pelaku sudah berupaya keras menghilangkan jejak. Pembunuhan terhadap korban dilakukan di rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli, sekitar pukul 16.30 hingga 22.30 Wita, pada 11 Februari 2009.

Adapun Susrama menjadi aktor intelektual dalam kasus pembunuhan terhadap Prabangsa ini, hal ini diduga terkait pemberitaan kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan dalam pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli.

Susrama kemudian memerintahkan dua anak buahnya untuk menghabisi korban di belakang rumahnya. Mayat korban lantas dibuang di tengah laut Padangbai, Klungkung. Setelah lima hari, mayat Prabangsa ditemukan mengambang di laut Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan.

Semakin tidak jelas apa yang ada dalam pikiran seorang Presiden saat ini. Sebelumnya, mengeluarkan pernyataan mengenai pembebasan Abu Bakar Ba’asyir namun akhirnya batal. Kemudian kasus mantan dirut Bank Century yang diberi remisi hingga 77 bulan.

Kini, pemberian grasi kepada otak pembunuhan berencana seorang wartawan Jawa Pos Radar Bali. Masyarakat pun semakin bertanya-tanya, ada apa dengan semua ini. Seharusnya keistimewaan itu–meski diatur undang-undang–harus dipertimbangkan dengan ketat bagi narapidana-narapidana dengan kejahatan khusus.

About author

Your email address will not be published. Required fields are marked *