OTT Di Kemenpora, Gerindra: Bukti Ucapan Prabowo Dan Bukti Pemerintahan Koruptif 

OTT Di Kemenpora, Gerindra: Bukti Ucapan Prabowo Dan Bukti Pemerintahan Koruptif 

14 views
0

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang kini tengah menjadi sorotan.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menilai, penangkapan itu membuktikan ucapan ketua umumnya, Prabowo Subianto.

“Jangan panik dan marah ya Kangmas Joko Widodo dengan ucapan Prabowo, kalau virus korupsi di pemerintahan Kangmas Joko Widodo sudah masuk stadium empat,” ujar Arief dalam keterangan persnya, Kamis 20 Desember 2018.

Arief berharap, para pendukung Jokowi yang lain supaya tidak ‘ngeyel’ lagi apabila ucapan Prabowo itu benar. Menurut dia, operasi tangkap tangan (OTT) itu bukti pemerintahan koruptif saat ini.

“Suap di Kemenpora makin membuktikan kalau pemerintahan Joko Widodo sangat koruptif dan sudah tepat kalau korupsi di era Joko Widodo sudah masuk stadium empat,” tambah Arief.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono

Gerindra mendesak agar KPK dapat mengusut tuntas suap di Kemenpora sampai ke aktor utamanya. Dia mencontohkan saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat itu KPK bisa menjerat Menpora, Andi Mallarangeng.

“Segera KPK geledah kantor Menpora, karena sangat tidak mungkin pejabat penguna anggaran di Kemenpora melakukan korupsi tanpa ada tekanan atau perintah dari atasannya, dalam hal ini menterinya,” tutur Arief.

Arief juga mengingatkan, apalagi saat ini adalah tahun politik yang butuh dana besar untuk kampanye. Menurutnya, korupsi di Kemenpora juga dapat membuat pembinaan olahraga di Indonesia jadi tidak maju.

“Pantas saja olahraga kita kagak pernah maju kalau selamanya jadi sarang korupsi. Begitu juga program pembinaan pemuda Indonesia yang tidak jelas hasilnya,” ujar Arief.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat lima tersangka gratifikasi berkaitan penyaluran dana hibah Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018. Tersangka diduga pemberi gratifikasi yakni Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI dan Jhonny E selaku Bendahara Umum KONI.

Sementara itu, diduga penerima gratifikasi yakni Mulyana selaku Deputi IV Kemenpora, Adhi Purnomo selaku PPK sekaligus tim verifikasi Kemenpora serta Eko Triyanto selaku Staf Kemenpora.

About author