apakah benar “Telur dapat Berdiri” Saat Hari Tanpa Bayangan

apakah benar “Telur dapat Berdiri” Saat Hari Tanpa Bayangan

94 views
0

Masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat, terbiasa melakukan Menegakkan telur dalam merayakan posisi Matahari tepat di atas khatulistiwa atau biasa disebut sebagai fenomena ekuinoks.

Tetapi apakah benar bahwa fenomena ekuinoks mempengaruhi tarikan gravitasi sehingga telur lebih mudah terbentuk? Sejumlah verifikasi ilmiah menjawab sebagai mitos.

tegaknya telur ketika fenomena ekuinoks telah menjadi bagian dari masyarakat untuk waktu yang lama. Masyarakat Cina, tepatnya di Chungking, bekas ibukota sementara Cina, orang-orang menyambut datangnya musim semi dengan mendirikan telur, seperti dikutip oleh Snopes.

Karena perayaan meriah, Annalee Jacoby, seorang koresponden dari majalah LIFE, pernah menulis sebuah perayaan khusus dalam edisi 19 Maret 1945.

Perayaan itu juga sampai ke telinga Amerika Serikat dan tak lama kemudian, warga Paman Sam ikut bicara, menyiapkan telur saat musim semi tiba pada 20 atau 21 Maret.

Tanggapan dari dunia sains saat itu cenderung skeptis. Dalam tulisan-tulisan Jacoby sebelumnya, Albert Einstein dipanggil setelah ramai berita tentang telur. Tapi Einstein meragukan kebenarannya.

Keraguan juga menyebabkan peneliti lain menyelidiki kebenaran telur yang berdiri ketika ada titik balik. Frank D. Ghigo yang sebenarnya astronom bisa melakukan pembuktian. Dari eksperimennya, Ghigo menyimpulkan telur-telur itu bisa didirikan kapan saja, tanpa terjadi ekuinoks atau tidak.

“sejauh yang saya tahu, tidak ada banyak hubungan antara fenomena astronomi dan telur berdiri, itu hanyalah efek dari bentuk telur dan permukaannya,” kata Ghigo seperti dilansir Associated Press pada 1987. .

Ghigo kemudian berpendapat bahwa keberhasilan mendirikan telur ditentukan oleh keterampilan suasana hati seseorang. Selama eksperimennya, Ghigo percaya bahwa semakin gugup atau terburu-buru seseorang, semakin sulit untuk mendapatkan telur.

“Saya pikir saya menjadi lebih ahli dengan berlatih terus-menerus.”

Percobaan Ghigo menggunakan empat sampel yang berisi selusin telur yang berlangsung dari 27 Februari hingga 3 April 1984, termasuk fenomena equinox yang jatuh pada 20 Maret 1984.

Sekelompok siswa di Sekolah Menengah Mancelona, ??Michigan, AS, pernah melakukan eksperimen serupa dengan telur pada 16 Oktober 1999. Lisa Vincent, seperti dikutip dari Business Insider, memamerkan kesuksesan mereka dalam menyiapkan telur tanpa “bantuan” dari equinox.

Hebatnya, Vincent dan murid-muridnya mengatur telur di ujung yang lebih runcing dan tetap berdiri selama lebih dari satu bulan.

Tidak ada korelasi

Rhorom Priyatikanto, peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN), sepakat bahwa tidak ada korelasi antara fenomena ekuinoks dan telur yang dapat dengan mudah ditegakkan. Menurut apa yang orang percaya hanyalah mitos.

“Saya pikir telur dapat didirikan di mana saja dan kapan saja,” kata Rhorom, ketika dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan teks pada hari Rabu (21/3).

Namun, Rhorom mengatakan bahwa ini hanya terbatas pada pemikirannya dan belum terbukti secara ilmiah.

“Saya sudah bisa menegakkan telur di khatulistiwa di titik kulminasi. Saya belum mencoba di tempat lain … Ada juga telur yang gagal tegak meskipun berada di khatulistiwa dan puncak matahari,” tambahnya.

About author